Trip to Cambodia! – Part 1: Almost!

“Kapan pulang dari Thailand?”, “Kemarin habis liburan dari Bangkok ya?”, “Bawa apa dari Thailand?”. Kira-kira begitulah pertanyaan yang muncul dari beberapa kerabat gue. Mungkin karena aksara Abugida yang sempat gue tulis di salah satu postingan ig-story gue waktu itu, memang kalau dilihat sekilas tulisan Khmer itu akan tampak seperti tulisan Thailand, mungkin karena bahasa mereka masih dalam satu rumpun bahasa Austro-Asiatik.

“Gak, gue bukan ke Thailand, gue ke Kamboja”, lalu muncul lagi pertanyaan, “Kamboja itu apanya Thailand?”. Oke buat kalian yang belum tahu atau bahkan belum pernah dengar, Kamboja adalah salah satu negara di Asia Tenggara, jadi bukan merupakan provinsi atau negara bagian dari Thailand.

Oke, sekarang gue akan sedikit bercerita tentang perjalanan singkat gue ke Kamboja. Mungkin ini adalah perjalanan ter-unplanned sepanjang karir perjalanan gue, semua serba dadakan, tiket baru gue pesen satu hari sebelum berangkat, itinerary pun gue gak bikin, penginapan dan lain-lain pun gue baru nyari begitu sampai disana.

Perjalanan ini adalah salah satu yang ternekat menurut gue, kenapa begitu? Karena semua tiket gue pesan terpisah (maklum, biar lebih murah), tapi masing-masing waktu transit gue cuma sekitar satu jam di setiap bandara, dengan rute Semarang (SRG) (sambil nyobain bandara barunya) – Jakarta (CGK) – Kuala Lumpur (KUL) – Siem Reap (REP). “Gilak, ini sih bener-bener gambling!”. Bayangin gue harus pindah-pindah terminal dan lewatin counter imigrasi yang waktunya gak bisa diprediksi.

Dan ternyata benar, prediksi gue meleset.

Gue pikir gue bakal melangkah mulus di CGK, karena berdasarkan pengalaman gue imigrasi di Indonesia bakal mudah dan gak pakai antri panjang seperti biasanya. Ternyata sampai di CGK gue melakukan sebuah kebodohan, gue mikir kalau dari terminal 2F gue tinggal jalan kaki ke sebelah (terminal 2E), dengan pede-nya gue melenggang ke pintu keberangkatan, dan tahu apa? gue lupa kalau maskapai AA udah pindah ke terminal 3 (terminal yang paling gue sebelin kalau lagi buru-buru, karena jarak antar gate-nya jauh-jauh). Oh My God! gak pakai lama gue langsung ngacir keluar bandara, karena gue masih harus naik skytrain lagi dari terminal 2 ke terminal 3.

Dan waktu pun terus berjalan.

Sampai di terminal 3, gue langsung nyari counter check-in buat nge-print boarding pass dan udah waktunya boarding, mbak petugasnya pun bilang “Wah kenapa baru datang mas? saya gak janji bisa ya karena udah waktunya boarding”. Saya pun tak banyak berkomentar, “Gakpapa mbak, I’ll do my best. Just give me the boarding pass”. Kemudian setelah dikasih selembar boarding pass, gue pun langsung berlari sekencang-kencangnya menuju imigrasi. Well, actually ini bukan yang pertama kali gue kaya gini hahaha.

Dan setibanya di imigrasi ada lagi masalah lain, antriannya lumayan panjang dan udah waktunya gue boarding. “Ah, ada autogate!” Gue pun langsung potong kompas menuju autogate, tapi sialnya setelah gue coba berulang-ulang tetap aja gak bisa tembus, ternyata banyak orang yang senasib gak bisa lewat kayak gue. “Damn! Apa gunanya alat ini?!”, kata gue dalam hati. Akhirnya mau gak mau gue putar balik ikut ngantri di manual gate dengan perasaan deg-degan. Gosh, I’m almost hopeless!.

Tak lama kemudian kembali terdengar announcement, pesawat gue udah memasuki last call period dan gue masih aja ngantri. Sambil terus ngedumel dalam hati, “ayo dong buruan!”, sampai tibalah sisa tiga orang didepan gue yang terdiri dari seorang ibu, anaknya dan neneknya, yang mana mereka merupakan satu keluarga, gue pun tanpa basa-basi langsung memberanikan diri buat minta tolong ke ibu itu. “Mohon maaf bu, boleh saya duluan? saya sudah last call”. Syukurnya ibu itu dengan baik hati mempersilahkan gue untuk maju duluan. Makasih banyak, Bu! Jasamu tak akan kulupakan.

Well, gue masih punya secercah harapan. Gue pun melangkah dengan cepatnya ke counter imigrasi. Untungnya gak butuh waktu lama karena gue juga udah bilang kalau udah last call (walaupun sebenernya entah masih keburu apa gak). Setelah distempel gue pun langsung lari menuju gate 6. Ya, Enam! Jaraknya lumayan dari gate 10. Gue pun lari terbirit-birit (dengan menggendong si oren pastinya) bermodalkan harapan yang masih tersisa di setiap langkah kaki gue.

Sampai di gate 6 ternyata disana masih open gate. Oke, tinggal beberapa meter dari gate, gue pun menghentikan langkah sejenak untuk mengatur nafas dan kemudian melangkah perlahan menuju garbarata. Mulut gue kering, jir!“Air mana air!” (Botol udah gue kosongin karena gak boleh bawa air minum ke pesawat). Masuklah gue kedalam pesawat, gue letakkan si oren pada tempatnya dan segera mengambil posisi duduk yang nyaman untuk kembali mengatur nafas.

Waktunya take-off.

Akhirnya gue berhasil berangkat ke KL dengan segala dramanya. Oke, tapi setelah ini masih ada tantangan berikutnya. Apakah yang akan terjadi? We’ll see.

 

 

“People don’t take trips… trips take people”. — John Steinbeck

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑