Trip to Cambodia! – Part 3: Jalan-jalan Sore

 

Sampai di Bandara yang pertama gue cek adalah wi-fi, karena biasanya di setiap bandara disediakan fasilitas free wi-fi, dan setelah tersambung ke koneksi wi-fi airport langsung deh gue cari tempat duduk di dekat tempat pengambilan bagasi. Ngapain? Nyari penginapan, hahaha. Gue gak tau mau kemana setelah keluar dari bandara nanti. Setelah gue cari-cari di salah satu aplikasi untuk reservasi penginapan, gue pun terkejut, “Gilak! Seriusan ini dorm semalem gak nyampe goban? Murah aja!”. Akhirnya gue mutusin untuk stay di salah satu dorm dengan harga sekitar 3 USD semalem, bahkan gue sempet nemu dorm yang harganya gak nyampe 2 USD semalem, Gokil! Well, gue emang tipikal orang yang lebih seneng untuk stay di dorm sih dibanding private room kalau lagi solo traveling, karena gue bakal lebih banyak ngabisin waktu buat explore di luar daripada di kamar, buat gue yang penting sekedar bisa buat nyimpen barang, mandi sama tidur.

Oh iya lupa, disini mereka punya mata uang sendiri yaitu Khmer Riel, tapi pada umumnya semua transaksi jual beli disini menggunakan USD, jadi mending nukerin USD aja kalau kesini, Khmer jarang kepakai, kurs 1 USD yaitu 4.000 Riel. Jadi biasanya kalau kita beli sesuatu yang nilainya gak genap 1 USD misal 25 atau 50 cent, kita akan dikasih kembalian uang Riel dalam pecahan 1000 atau 2000.

riehl
Uang Khmer Riel

Oke, kembali ke Airport, setelah gue booking hostel, gue menghubungi seseorang yang pernah direkomendasiin temen gue. Namanya Heng, dia adalah seorang supir tuktuk, gue minta dia buat nemenin gue muter-muter keliling Angkor besok pagi, kebetulan dia juga lagi free besok, gue minta dia buat jemput gue di penginapan besok habis subuh dan dia pun mengiyakan ajakan gue. Oke, transportasi buat besok udah aman.

Nah, berikutnya adalah gimana caranya nih gue bisa sampai ke hostel, gue juga gak tau seberapa jauh jaraknya dari bandara, gue langsung jalan aja menuju pintu kedatangan, sampai diluar yang pertama gue cari adalah simcard, karena whatsapp gue harus selalu on dan gue gak bisa bergantung sama wi-fi terus menerus. Ada beberapa counter yang menawarkan paket internet, sama seperti di negara-negara lain pada umumnya, paket yang ditawarkan adalah tergantung berapa lama lo akan stay disana, biasanya minimal paket untuk tiga hari. Gue pernah dapet referensi di salah satu blog orang yang pernah berkunjung kesini, katanya semakin ke ujung lo akan dapat harga yang lebih murah, dan gue buktiin itu, karena gue gak ngerti provider mana yang paling bagus disini, gue cari aja yang paling menguntungkan, yg penting ada tulisan 4G/LTE. Gue pilih provider Metfone dengan harga 3 USD untuk kuota unlimited selama tujuh hari, walaupun sebenernya gue gak selama itu disana, tapi itu yang paling menguntungkan sih, jauh lebih murah daripada lo beli paket internet roaming, bisa seperempat harga, itupun kalau lo beli yang roaming bakal dibatasi kuota yang gue rasa gak cukup buat tiga hari. Gue bisa rekomendasiin provider ini sih, sampai gue pulang sih sinyal internetnya sangat bisa diandalkan.

Setelah beli simcard gue langsung jalan ke arah parkiran, karena gue gak tau dimana gue bisa dapetin tuktuk buat nganter ke hostel. Pas sebelum nyampe parkiran ada seorang cowok yang nanyain gue pake Bahasa Inggris, “lo mau naik tuktuk ya?”, kata dia. Gue pikir dia bakal nawarin tuktuk ala-ala scam gitu, tapi ternyata gue salah, ternyata dia justru mau ngasih tau gimana caranya lo bisa dapetin tuktuk di Bandara, ternyata ada counternya semacam taksi gitu, emang sih disitu mereka menyediakan beberapa pilihan, bisa naik mobil, tuktuk atau sepeda motor. Harga sepeda motor dan tuktuk sama, yaitu 9 USD, beda 1 USD sama mobil (lumayan mahal ya?), tapi ya udah lah gakpapa daripada gue gempor jalan kaki, yang penting gue bisa nyampe hostel. Gue milih naik tuktuk biar lebih berasa aja kearifan lokalnya. Perjalanan kurang lebih hampir tiga puluh menit lah, tapi jalannya udah bagus kok, udah jalan aspal, cuma beberapa aja ada jalan yang rusak, but overall is good.

20180621_163447
Perjalanan menuju penginapan menggunakan tuktuk

Sampai di penginapan, gue langsung check-in, lumayan lah dorm-nya, selain kasur, ada fasilitas loker, handuk, kipas angin, AC, kamar mandi dalam. Gue langsung beres-beres, istirahat sebentar sambil browsing tempat tujuan berikutnya. Oke yang pertama gue butuh makan, gue laper banget. Sekilas gue baca review orang-orang waktu mau booking penginapan, katanya gak terlalu jauh dari sini ada restoran halal punya orang melayu. Setelah mencari di google maps, ternyata bisa ditempuh dengan berjalan kaki, okelah ayo kita berangkat. Gue masukin barang-barang kedalam loker, cukup bawa kamera beserta tasnya. Bermodalkan petunjuk arah dari google maps, gue pun berjalan menuju sebuah masjid yang terletak di pinggir jalan raya, katanya posisi restorannya ada di dekat masjid itu.

DSCF2610
Masjid An-Neakmah, Siem Reap

Setelah sekitar lima sampai sepuluh menitan jalan kaki, sampailah gue di Masjid An-Neakmah, letaknya di pinggir jalan raya, jadi gak susah nyarinya. Mumpung masih masuk waktu ashar, sekalian deh gue mampir kedalam buat menunaikan sholat ashar. Ada seorang pria yang berdiri di luar masjid, sepertinya ia baru selesai sholat, gue tanya pakai Bahasa Inggris dimana tempat ambil wudhu, langsung dia jawab pakai Bahasa Melayu, sepertinya tampang gue memang mudah ditebak, kalau gue saudara serumpun. Gue pun langsung menuju tempat wudhu dan sholat. Selesai sholat ternyata pria itu masih duduk-duduk didepan masjid. Langsung aja gue sksd ngobrol-ngobrol bentar sambil pakai sepatu. Di sekitar daerah ini emang sepertinya kompleks orang melayu sih, gue menemukan beberapa rumah makan melayu dan orang-orang berwajah melayu.

DSCF2613
Bagian dalam Masjid An-Neakmah

Sebelum sampai di masjid tadi gue sempet lihat ada restoran dengan nama The Backpackers Halal Restaurant, tapi ternyata restoran itu lagi tutup, karena kata bapak-bapak yang punya restoran, adiknya lagi acara kawinan, bla bla bla.. (lah dia malah jadi curhat), jadi besok mereka baru buka. Terus gue direkomendasiin ke restoran halal di belakang masjid, kata bapak itu, mereka lah yang pertama kali buka restoran halal disini. Okelah gue langsung menuju kesana.

DSCF2609
The Siem Reap Backpackers Halal Restaurant

Namanya Muslim Family Restaurant, dengan menu andalannya Daging Lembu Naik Bukit, gak tau deh itu makanan model gimana, karena gue gak pesen itu. Gue pesen seporsi nasi goreng dan teh tarik, dengan porsi yang cukup besar, tapi rasanya so-so sih, tapi lumayan lah kalau laper mah sikat aja. Selesai makan gue langsung balik ke penginapan buat mandi dan istirahat sejenak.

20180621_174935
Nasi Goreng plus Es Teh Tarik

Destinasi berikutnya kemana? Kita lanjut di postingan berikutnya.

“One’s destination is never a place, but always a new way of seeing things.” – Henry Miller

 

Comments are closed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: